Sabtu, 08 Juni 2013

Pastor Agatho Elsener OFM Cap: Bukan Hanya Soal Sertifikat



Pertanian organis yang dirintis Pusat Pengembangan Organis di Tugu Selatan, Cisarua, tahun 1984 itu sudah merambah ke berbagai daerah. Di Lombok, di Jawa Tengah khususnya kawasan Magelang, di Bali petani mengusahakan pertanian organis. Di sejumlah mal tersedia gerai produk hasil pertanian organis, juga di beberapa toko khusus.

Pertanian organis pada awal-awal reformasi bahkan bentuk kemandirian petani, bahasa politiknya demokratisasi petani. Pada zaman Orde Baru, petani terpaksa merelakan tanaman organisnya dibabat aparat. Mereka harus menanam tanaman dan cara yang ditentukan pemerintah. Bibit dan cara tanam ditentukan pemerintah. Seragam!

Konsep penyeragaman tabu untuk zaman reformasi. Petani bisa menentukan sendiri jenis dan bibit usaha taninya.

Dalam suasana seperti itu usaha tani organis berkembang pesat, terutama pada awal-awal tahun 1999, berlanjut hingga sekarang. Awal tahun 2000 pemerintah bermaksud baik. Ingin melakukan standardisasi dan sertifikasi. Tujuannya agar konsumen tidak tertipu. Produk sayuran dan biji-bijian yang beredar di pasar benar-benar dari hasil usaha organis, yakni alamiah, tidak pakai pupuk buatan pabrik, tidak pakai insektisida buatan pabrik. Awalnya pemerintah, dalam hal ini Departemen Pertanian, menanyakan dan mengajak bekerja sama dengan perintis pertanian organis di Tugu Selatan, yang sejak berdiri sampai sekarang ditangani Pastor Agatho Elsener OFM Cap.

Ajakan itu tidak serta-merta lancar. Menurut Agatho, pertanian organis tidak sekadar bercocok tanam secara alamiah, tanpa pupuk buatan pabrik, tanpa insektisida buatan pabrik. Pertanian organis tidak sekadar sertifikasi, tetapi sikap. Perlu perubahan besar. Sementara Departemen Pertanian lewat program Go Organic 2008 mendefinisikan pertanian organis sekadar nonkimia, nonpestisida. Perbedaan konsep sebagai dasar program membuat Agatho ditinggalkan begitu saja. Tahu-tahu ada tiga perusahaan yang memperoleh izin menstandarkan dan memberikan sertifikasi produk organis.

Awal November lalu Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengunjungi Pastor Agatho. ”Saya berterima kasih atas kunjungan itu. Dua hal dia singgung. Pertama soal program Go Organic 2010, kedua tentang pertanyaan training yang diselenggarakan di Pertanian Organis di bawah payung Yayasan Bina Sarana Bakti,” katanya kepada Kompas. ”Kami sudah menghasilkan alumni lulusa
n ratusan orang. Mereka kemudian menjadi petani organis di berbagai daerah.”

Pastor kelahiran Scwyz, Swiss, 75 tahun lalu, cucu penemu, pembuat, dan pemilik merek pisau victorinox itu bercerita bagaimana pada awalnya dia dihubungi Syukur Iwantoro dari Departemen Pertanian untuk ikut menangani usaha standardisasi dan sertifikasi pertanian organis di Indonesia. Ketika Syukur Iwantoro pindah ke jabatan baru, program kurang dibicarakan terbuka, kecuali tiba-tiba ada sejumlah perusahaan yang memperoleh lisensi memberi sertifikasi.

”Saya bilang ke Pak Menteri, pengembangan program pertanian organis tidak cukup hanya ditangani Menteri Pertanian, tetapi perlu melibatkan beberapa menteri. Pembentukan otoritas kompetensi sering tidak diuji dulu seberapa jauh lembaga itu punya kompetensi.”

Tambah Agatho, perbedaan pemahaman tentang konsep pertanian organis antara pihaknya dan pemerintah mungkin menjadi penyebab dia ditinggalkan.

Tidak berlatar belakang pertanian tetapi ilmu ketuhanan dan punya obsesi mengembangkan pertanian organis di Indonesia, Agatho tidak keberatan bekerja sama. Dia tawarkan usahanya—awalnya hanya 4 hektar sekarang 6 hektar sudah digarap sebagai kebun percobaan milik yayasan—dijadikan proyek percontohan. Caranya, ada orang Departemen Pertanian yang terlibat dalam pengelolaan sehari-hari. Luas lahan seluruhnya 12 hektar tetapi baru digarap 6 hektar dengan sekitar 100 karyawan itu sebulan rata-rata menghasilkan Rp 100 juta. Surat yang dikirim akhir November 2007 tidak ada tanggapan, sampai-sampai Agatho putus asa.

Kejengkelan

Di tengah kejengkelan dan putus asa, awal Februari ini Agatho diterima pejabat Departemen Pertanian yang mengurusi pertanian organis. ”Saya diterima setelah lebih dari 50 kali menelepon,” kata Agatho, pekan lalu. ”Mereka mau bekerja sama dan mendukung usaha kami.” Bentuk dan syaratnya belum dibicarakan, termasuk perlunya titik temu perbedaan konsep pertanian organis. ”Ini langkah yang bagus, ada kemajuan, dan kami merasa berpengalaman sekaligus memiliki lahan paling luas sebab umumnya petani organis paling luas hanya 2 hektar.”

Mengenai konsep pertanian organis, Agatho lewat Pusat Pengembangan Organis di bawah payung Yayasan Bina Sarana Bakti tidak hanya melakukan percobaan, melainkan juga pengkajian dan training. Buku-buku tentang pertanian organis memenuhi kamar kerjanya, selain ruang laboratorium yang mengkaji percobaan-percobaan yang dipimpin dua insinyur pertanian lulusan UGM, Sudaryanto dan Triatmi Sihwinarni, sisa-sisa dari 20 insinyur yang mengawali proyek itu tahun 1984.

”Yang benar organis, bukan organik,” kata Agatho. Organis menggambarkan satu unit/kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian yang semua teratur, terarah pada kepentingan bersama, yakni harmoni. Pertanian organis tidak hanya nonkimia dan nonpestisida. Bukan juga soal sertifikasi. Pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup. Organisme alam terdiri atas binatang, tumbuhan, hutan, dan biotop lainnya. Semua bisa hidup karena dukungan semua organnya, dan setiap organ bertujuan hanya satu, yakni melayani organisasinya. Kalau organ melayani dengan baik, organisme makin sehat.

Oleh Agatho dan teman-temannya, konsep organis dengan analogi tubuh manusia itu dalam usaha tani organis dikembangkan lewat kesatuan antara unsur-unsur kehidupan, iklim, binatang, dan tumbuhan. Pertanian organis menjadi berbiaya murah ketika peternakan dan pertanian jalan bersama sebagai satu kesatuan usaha. Ada peternakan sapi yang menghasilkan kotoran untuk pupuk, hasil sayuran yang bisa jadi bahan makan untuk binatang.

”Nah, pertanian organis menyangkut sikap dan pandangan hidup sehingga pertanian organis adalah keniscayaan bagi kelestarian alam. Intensifikasi pertanian sebagai pengembangan dari slogan Revolusi Hijau dalam praktik adalah memperlakukan alam dengan kerakusan besar, mengakibatkan usaha tani rentan hama dan pergantian iklim,” jelas Agatho.

Menyaksikan petak-petak lahan percobaan dengan berbagai jenis sayuran organis di Pusat Pengembangan Organis, spontan terkesan tanaman kurang terawat. Bukan hijau tua subur, tetapi terlihat kurus, sedikit layu, kurang pupuk. ”Ini memang kesan umum tanaman organis. Berbeda dengan sayuran yang dipupuk dengan pupuk pabrik dan insektisida buatan pabrik,” kata Sudaryanto, tangan kanan Agatho, insinyur pertanian tetapi merasa pengetahuan tentang ilmu pertaniannya kalah jauh dibandingkan dengan Agatho. ”Romo Agatho itu sudah sekelas lulusan doktor,” katanya.

Menurut Sudaryanto, dalam situasi global, membangun pertanian, khususnya bagi petani, harus dimulai dari yang kecil. ”Untuk menjadi petani yang sukses, harus dimulai saat ini, yakni menjalankan pertanian berwawasan lingkungan dan pertanian organis dalam praktik.” Kalimat itu meluncur spontan, mengutip Y Wartaya Winangun SJ, pimpinan Kursus Pertanian Taman Tani, Salatiga (Membangun Karakter Petani Organik yang Sukses dalam Era Globalisasi, Kanisius, 2005). Membangun karakter petani yang sukses butuh tiga M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil, Mulai dari saat ini. Keberhasilan yang besar diawali dari keberhasilan kecil-kecil.
Mengenai sertifikasi, seperti Agatho, Sudaryanto melihat, masalah cap berurusan dengan izin atau lisensi dan pungutan; kurang lebih itulah pandangan yang berkembang umum. Pemegang lisensi yang saat ini dimiliki tiga perusahaan seharusnya mengontrol saja usaha tani organis, apalagi pengalaman dan kompetensi mereka tentang pertanian organis belum teruji.

Biarkan petani yang mengembangkannya dalam konsep yang lebih utuh, tidak sekadar tanpa pupuk pabrik, tanpa obat kimia. Beberapa petani bersama-sama membangun kemandirian, termasuk menjamin produk sayurannya adalah organis. Sementara kalau pemegang lisensi hanya duduk di belakang meja dan main kasih stempel, sertifikasi sayuran organis bisa saja berasal dari bukan usaha pertanian organis.

Perintisan pertanian organis di Cisarua tidak selesai dengan begitu berkembangnya usaha tani organis, tidak sekadar utopia melawan Revolusi Hijau yang saat ini berkembang di berbagai daerah. Agatho, Sudaryanto, Triatmi bersama seratus karyawannya selain masih berjuang menjelaskan tentang konsep organis seperti yang seharusnya, kini berjuang agar hasil usaha organis tidak dimanipulasi oleh sertifikasi.

”Dengan pertemuan awal Februari di Jakarta itu, kami masih berharap bisa memberikan masukan, selain masalah sertifikasi juga pertanian organis tidak sekadar usaha tani tanpa pupuk pabrik, tanpa obat kimia,” jelas Agatho Elsener, ahli pemuliaan tanah, otodidak ilmu pertanian, pastor Ordo Fransiskan yang ditahbiskan tahun 1958, datang di Indonesia tahun 1960, memperoleh kewarganegaraan Indonesia tahun 1983. (St Sularto)

Sumber: Kompas, 21 Februari 2008

Jumat, 07 Juni 2013

Penjaga Hutan Anggrek Hitam



Meski dicemooh kurang waras, Ramianto Situl (39) dan keluarga bersikeras merawat hutan anggrek di Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Tak ada keuntungan dia peroleh, hanya keinginan melestarikan anggrek hitam atau ”Coelogyne pandurata” yang menjadi motivasinya. Ramianto bercerita, keluarganya merawat hutan anggrek secara turun-temurun. Ibunya, Yunitha Situl (71), merawat hutan anggrek sejak 1965. Anggrek hitam adalah tumbuhan asli Kalimantan yang semakin sulit ditemukan di habitat aslinya karena banyak diburu orang.

Sebelum dirawat, hanya sedikit anggrek di hutan yang tumbuh alami di areal seluas sekitar 10 hektar itu. Yunitha lalu membayar orang untuk membersihkan lahan karena hutan itu lebat. Pembersihan lahan diperlukan demi membuat jalan setapak untuk memudahkan merawat anggrek di hutan.
Ketika itu penghasilan Yunitha tak seberapa. Ia bekerja sebagai guru Sekolah Dasar Negeri 1 Murutuwu dengan tanggungan 10 anak.
Seiring perhatian sang ibu pada anggrek, sejak masih kecil, Rami, panggilan Ramianto, dan saudara- saudaranya pun terbiasa masuk-keluar hutan membantu sang bunda. Mereka bertugas memindahkan bagian anggrek agar lekas berbiak.
”Hujan atau panas, kami tetap menyetek anggrek. Sampai kami dibilang orang gila karena mau merawat anggrek seperti itu,” kata Rami mengenang.
Hasil kerja keras mereka telah membuat hutan itu rimbun dengan tanaman anggrek. Di sisi lain, risiko terluka karena hewan buas, seperti beruang madu, ular, landak, dan babi hutan, tetap mengintai keselamatan mereka.
Kini, Rami dan empat saudaranya yang tinggal di Murutuwu-lah yang aktif merawat hutan. Meski demikian, saudaranya yang berada di luar Kalimantan Tengah (Kalteng) pun tetap memberikan perhatian pada anggrek di hutan tersebut.

Terdesak sawit
Ketika hutan mulai ramai dikunjungi dan mendapat perhatian publik, warga di sekitar areal ini justru beramai-ramai mengklaim lahan tersebut sebagai milik mereka. Ini terjadi pada 2008.
”Kenapa mereka ribut? Setelah ramai orang, mereka baru mengklaim lahan hutan tersebut. Saya khawatir Murutuwu semakin terdesak oleh keberadaan perkebunan kelapa sawit,” katanya.
Rami yang berpenghasilan sebagai petani karet itu jengkel. Dia yakin, lahan hutan tersebut pasti sudah berubah menjadi perkebunan sawit jika tidak dipertahankan sekuat daya.
Masalah tersebut kemudian dimufakatkan melalui musyawarah desa. Rami sepakat, luas lahan yang dikelola keluarganya menjadi 5 hektar. Itu pun batas lahan milik Rami dan warga lain tidak jelas.
Meski demikian, ia tetap merawat tumbuhan anggrek di hutan. Dia seakan tak peduli apakah tanaman itu berada di lahannya atau bukan. Bagi Rami, tak ada keuntungan materi yang diperoleh dari kegiatan tersebut.
”Bahkan, kami harus keluar uang pribadi, entah sudah berapa jumlahnya. Belum lagi kalau menghitung tenaga yang dikeluarkan. Semua itu tak mengapa, demi kelestarian anggrek hitam,” tuturnya.
Rami semakin tergerak melestarikan anggrek hitam saat ibunya mengikuti Jambore Nasional Pramuka di Jakarta pada 1981. ”Waktu itu Ibu sempat berkunjung ke taman anggrek di Taman Mini Indonesia Indah. Setelah itu, niat kami melestarikan anggrek hitam semakin kuat,” ujarnya.
Alhasil, seiring berjalannya waktu, para peneliti, kru stasiun televisi, staf lembaga swadaya masyarakat (LSM), kolektor, sampai petani pun berbondong-bondong datang ke hutan anggrek tersebut. Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), misalnya, datang pada 2005. Ada pula peneliti asing yang datang, seperti dari Meksiko, Jerman, dan Inggris.
”Mereka yang datang untuk mengambil anggrek tidak saya izinkan. Saya juga tidak mau menjual anggrek hitam. Saya sungguh cemas, lama-kelamaan anggrek hitam di Kalimantan bisa punah,” tuturnya. Mereka yang berniat mengambil anggrek umumnya datang dengan membawa karung, bahkan bermobil.
Selain itu, banyak pula pemetik anggrek yang masuk ke hutan secara diam-diam. Rami dan keluarganya tidak segan-segan menegur, bahkan memarahi siapa pun mereka. Kecemasan Rami terhadap pencurian kekayaan flora Indonesia itu muncul karena ia khawatir anggrek hitam akan dibawa ke luar negeri dan menguntungkan pedagang asing.

Status hutan
Rami merasa kesal ketika beberapa pihak ingin mengelola hutan tersebut tanpa menghubunginya. Mereka memilih memberi tahu kepala desa. Rami bersikeras dalam hal ini karena yang dia ketahui, hutan itu merupakan habitat tumbuhan anggrek paling lebat di Barito Timur, bahkan di Kalteng.
Upaya Rami memperjuangkan hutan anggrek itu membuahkan hasil dengan keluarnya Keputusan Bupati Barito Timur Nomor 350 Tahun 2006 tentang Izin Pemanfaatan Kawasan Hutan pada Hutan Hak. Keluarga Rami diberi izin dalam pemanfaatan kawasan hutan tersebut.
Dalam keputusan yang dikeluarkan pada 11 Desember 2006 itu disebutkan larangan mengambil anggrek, penebangan pohon, penggunaan alat berat dan peralatan mekanis, serta penambahan jenis tumbuhan yang tidak asli dari daerah setempat.
Namun, keputusan itu hanya berlaku selama lima tahun dan belum diperpanjang. Ketidakjelasan status hutan pun berulang. Oleh karena itu, Rami kembali meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk melindungi hutan anggrek dengan memberikan status kawasan konservasi yang legal.
Tak ada sertifikat lahan. Selama ini Rami hanya mengandalkan surat keterangan tanah. Meski demikian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Barito Timur setidaknya telah menyatakan dukungan agar hutan tersebut bisa dikembangkan menjadi daerah tujuan penelitian dan wisata.
Penelitian itu termasuk untuk pohon-pohon besar. Perawatan hutan yang masih tradisional pun akan dikembangkan secara teknis agar semakin subur.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalteng Muhammad Nur juga berniat membangun pondok untuk wisatawan atau fasilitas penunjang lain. Namun, ia baru bisa melaksanakan niat tersebut jika status kawasan hutan sudah jelas.
”Saya berharap pemerintah bisa segera mengeluarkan keputusan tentang status hutan ini. Kejelasan itu penting agar keberadaan anggrek hitam bisa dipertahankan dan tak diganggu orang. Di sini dukungan Pemerintah Kabupaten Barito Timur amat penting,” kata Rami sambil menyebutkan contoh dukungan yang diharapkan berupa jalan beraspal menuju hutan untuk merawat anggrek.
”Orangtua berpesan agar kami terus merawat hutan itu,” ujarnya menegaskan.
Saat Desa Murutuwu dikepung perkebunan sawit dan banyak warga menjual lahan, Rami tetap berusaha mempertahankan hutan demi kelestarian kekayaan hayati Indonesia.


Sumber : Kompas Selasa, 5 Februari 2013

Rabu, 05 Juni 2013

Nelayan Penyelamat Terumbu Karang


Nelayan Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur, sebenarnya sosok yang sederhana. Namun, mereka mampu mengembalikan kawasan terumbu karang di Selat Bali yang rusak untuk kehidupan berbagai jenis ikan hias. Sebab, di situlah mereka bergantung sebagai pencari ikan hias.
 Gambar : Nelayan Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur


Namun, yang patut dipuji adalah langkah untuk mengembalikan lingkungan tempat tinggal, yang sekaligus juga tempat usaha mereka, sama sekali tidak mengandalkan bantuan pemerintah. Mereka melakukannya bersama-sama secara swadaya dan swadana.
Padahal, sebagai nelayan pencari ikan hias, penghasilan mereka rata-rata tak lebih dari Rp 50.000-Rp 100.000 per hari. Namun, mereka mau menyisihkan penghasilan yang pas-pasan, serta waktu saat mereka tak melaut, untuk menyelamatkan kawasan terumbu karang.
Bicara soal penyelamatan kawasan terumbu karang di Selat Bali, tentu tak bisa jika tidak menyebut nama Ikhwan Arief, yang menjabat Ketua Kelompok Nelayan Ikan Hias Samudera Bakti Desa Bangsring. Ikhwan-lah tokoh yang memprakarsai penanaman kembali terumbu karang yang pernah rusak akibat usaha penangkapan ikan yang salah, di antaranya menggunakan bom.
”Sejak tahun 1970-an, penangkapan ikan menggunakan bom dan bahan kimia marak terjadi. Akibatnya, terumbu karang di kawasan ini rusak. Waktu itu, angka kerusakan terumbu karang mencapai 82,5 persen dari 140 kilometer Selat Bali,” kata Ikhwan, awal Maret lalu.
 
”Demplot” restorasi
Menurut dia, secara rutin sejak tahun 2008, nelayan Desa Bangsring, bersama dengan lembaga swadaya masyarakat pemerhati lingkungan, yaitu Pelangi Indonesia dan Pilang, mencoba menyelamatkan kawasan terumbu karang tersebut. Langkahnya dilakukan dengan memperbaiki ekosistem laut yang rusak melalui penanaman bibit terumbu karang.
Penanaman bibit terumbu karang dilakukan dengan cara merestorasi bibit karang di lokasi uji coba, yang disebut demonstration plot (demplot), untuk dapat menjadi terumbu karang.
Pertama, mereka membuat demplot-demplot terumbu karang yang terbuat dari pipa paralon yang disambung-sambung dengan membentuk bujur sangkar. Selanjutnya, di bagian tengah setiap demplot yang berbentuk bujur sangkar itu dipasang senar atau kawat baja secara vertikal dan horizontal seperti jaring. Kemudian, di setiap titik temu senar itulah dipasangi pot semen yang sudah ditanami bibit terumbu karang.
Bibit-bibit terumbu karang tersebut lalu ditanam di bawah laut agar bisa berkembang. Nelayan membawa bibit terumbu itu ke tengah laut dan memasangnya di dalam laut. Biasanya, cara ini dilakukan di laut yang tak terlalu dalam. Untuk menyelam ke laut dan memasang demplot-demplot yang sudah ditempeli bibit terumbu karang, nelayan menggunakan peralatan sederhana.
Meskipun penanaman bibit terumbu karang itu butuh waktu dan biaya, pada akhirnya nelayan bisa melakukannya sendiri. Pembiayaan pembuatan demplot ditanggung bersama dengan iuran untuk membeli pipa paralon dan semen. Besaran iuran ditentukan dari banyaknya terumbu karang yang akan ditanam. Adakalanya, untuk membuat satu demplot yang berisi 16 terumbu karang, mereka harus merogoh kocek Rp 10.000-Rp 20.000 per orang. ”Namun, iuran bukan yang utama, yang penting adalah kerja samanya,” ucap Ikhwan.
Sistem adopsi juga dilakukan untuk meringankan cicilan yang harus dibayar nelayan. Dengan sistem ini, setiap warga atau pihak lain bisa memberikan donasi untuk kegiatan penyelamatan lingkungan terumbu karang. Mereka yang ikut memberikan donasi dijuluki ”bapak asuh terumbu karang”.
”Dengan Rp 100.000, mereka yang dijuluki bapak asuh ini bisa ikut menanam satu bibit terumbu karang. Nama mereka dicantumkan di demplot,” ujar Ikhwan.
Cara tersebut ternyata lebih murah dan sederhana dibandingkan metode yang ditempuh pemerintah dengan cara menenggelamkan beton yang nilainya ratusan juta rupiah. Hanya dengan modal mulai dari Rp 1 juta-Rp 2 juta, nelayan Bangsring bisa bersama-sama menumbuhkan terumbu karang di laut.
Dari catatan Ikhwan, tahun lalu, jumlah ”bapak asuh terumbu karang” mencapai 200 orang lebih. Artinya, ada 200 lebih bibit terumbu karang yang telah ditanam di Selat Bali tersebut. Kegiatan ini pun mendapat dukungan dari berbagai kalangan.
Selain menerapkan sistem program bapak asuh, para nelayan di Bangsring juga menerapkan kebijakan tersendiri untuk melindungi wilayah terumbu karangnya. Mereka sepakat membuat zona konservasi seluas 5.000 meter persegi di pantai Bangsring, yang tak boleh diganggu. Di zona tersebut, nelayan setahun sekali menebar benih udang dan bandeng. Mereka juga bersepakat untuk tak menangkap ikan di kawasan itu karena merupakan kawasan pembiakan.
”Larangan itu kami berlakukan agar bibit ikan punya kesempatan untuk berkembang biak. Kawasan untuk menangkap ikan sudah cukup luas. Jadi, kalau cuma 5.000 meter persegi untuk dilindungi, ya pastinya tak berat,” kata Amir (33), nelayan Bangsring lainnya.
 
Tantangan
Tentu, mengajak masyarakat memelihara ekosistem laut bukan hal mudah. Pada awalnya, masyarakat Desa Bangsring banyak yang tak tertarik untuk mengembalikan kondisi lingkungan kawasan terumbu karang. Namun, akhirnya sedikit demi sedikit nelayan tergerak untuk mulai bergabung setelah melihat hasil nyata dari langkah Kelompok Nelayan Ikan Hias Samudera Bakti menyelamatkan lingkungan.
Salah seorang yang tergerak adalah Imam (38), yang juga warga Desa Bangsring. Ia mengaku awalnya memang tak tertarik dengan kegiatan tersebut. Alasannya, waktu itu ia sibuk mencari ikan. Namun, mereka akhirnya tertarik setelah menyadari sulitnya mencari ikan jika kondisi lingkungan rusak.
”Dulu memang setengah mati cari ikan hias. Sehari hanya mendapat lima atau tujuh ikan. Setelah ada ajakan untuk mengembalikan kondisi ekosistem laut yang bisa berdampak pada ekonomi kami sendiri, saya pun bergabung. Itulah harapan baru,” kata Imam.
Selama ini, ikan hias yang diproduksi nelayan Desa Bangsring di antaranya ikan badut (clownfish) dan ikan scorpion, selain juga banyak jenis lain. Sejak dulu, Desa Bangsring memang tercatat sebagai daerah penghasil ikan hias terbesar di Banyuwangi. Bahkan, ikan-ikan itu menjadi komoditas ekspor ke Jepang, Taiwan, Singapura, dan negara lain.
Tohari (50), nelayan yang kini menjadi kader konservasi pantai Desa Bangsring, mengaku, dulu, saat mencari ikan, ia sering memakai bahan kimia agar mendapatkan hasil banyak. Ketika itu, ia bisa menangkap 20-25 ikan per hari. Namun, karena jumlah ikan di pantai kian menyusut, akhirnya Tohari memilih cara lebih aman untuk menangkap ikan.
Pelajaran berharga sejak nelayan Desa Bangsring aktif dalam penyelamatan ekosistem pantai, praktik penggunaan bom ikan dan racun jauh berkurang.
Menurut Ikhwan, kalaupun ada nelayan yang nakal, yang masih menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan, biasanya dari luar Bangsring.
Pelan-pelan, dampak positif pemeliharaan lingkungan memang mulai dirasakan nelayan setempat. Namun, tantangannya pada masa mendatang adalah mungkinkah langkah mulia ini bisa terus bertahan selamanya? Waktu yang akan menjawab.
 

Sumber : Kompas.com, Jumat, 15 Maret 2013

Hutan Bambu, Menjaga Sumber Air


Gambar : Hutan bambu di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro


Cerita mengenai kekeringan saat ini hampir tak ada putusnya. Mulai dari warga mengantre air bersih berjam-jam, lahan pertanian rusak, tanaman padi yang puso, pemanfaatan air sungai yang kotor untuk keperluan sehari-hari, hingga merebaknya beragam penyakit tanaman akibat musim kering.
Namun, tidak halnya bagi warga Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang (sejauh 40 kilometer dari pusat kota Lumajang). Kini, mereka tidak lagi menderita kekurangan air, baik musim kemarau maupun hujan.
Saat di beberapa tempat, waduk dan sumur mulai mengering, gemercik air di sawah-sawah di Sumbermujur tidak pernah berhenti. Dari sawah terdekat dengan Gunung Semeru (8 kilometer dari Gunung Semeru), hingga ke sawah-sawah di kampung lainnya (berjarak lebih dari 50 kilometer dari Gunung Semeru) selalu terima suplai air.
Hal itu terjadi karena mata air Sumber Delling tidak pernah berhenti mengalirkan air bersih baik untuk minum maupun irigasi. Mata air yang berasal dari Gunung Semeru itu saat kemarau seperti ini masih bisa mengeluarkan air bersih 600-800 liter air per detik. Pada musim hujan, debitnya mencapai 1.000 liter air per detik. Mata air tersebut berada di tengah hutan bambu seluas 14 hektar.
”Ini semua hasil kerja keras kami selama ini. Tahun 1970-an, mata air di sini debitnya hanya 300 liter per detik. Kini air melimpah dan semoga saja tak pernah mengecil lagi,” kata Hery Gunawan, tokoh masyarakat di sana, Jumat (9/9).
Tahun 1970-an situasi ekonomi Indonesia tidak bagus. Masyarakat umumnya makan bulgur, dan mata pencaharian warga Desa Sumbermujur umumnya sebagai pembuat gedek atau dinding dari anyaman bambu. Tak heran jika kemudian hutan bambu setempat nyaris dibabat habis untuk kebutuhan harian warga setempat.
Menilik lokasi hutan bambu yang dikitari empat dusun, tidak heran laju pembabatan bambu sangat cepat. Kala itu dalam satu rumpun hanya tersisa 20 batang bambu, padahal sebelumnya terdapat puluhan rumpun yang terdiri dari puluhan batang bambu juga.
Di sisi utara hutan bambu adalah Dusun Umbulrejo, sisi selatan adalah Dusun Umbulsari, sebelah timur adalah Dusun Krajan, dan bagian barat merupakan Dusun Wonorenggo. Empat dusun itu berada di Desa Sumbermujur.

Saat kritis
Dampak pembabatan bambu demi alasan ekonomi langsung terasa. Debit air Sumber Delling mengecil. Bahkan setiap malam masyarakat setempat dengan penerangan obor harus pergi ke sumber untuk antre air bersih, karena pada siang hari air yang ditampung belum cukup untuk memenuhi kebutuhan malam itu hingga esok harinya.
”Saat itu air digilir untuk setiap dusun. Mungkin dalam seminggu hanya tiga kali air mengalir ke satu dusun. Ini jelas menyusahkan kami sebagai petani. Kalau ingin panen, tiap malam kami harus berebut mendapatkan air. Tidak jarang juga terjadi carok (perkelahian) gara-gara rebutan air,” kenang Kusman (55), petani asal Desa Sumbermujur.
Melihat kondisi itu, nurani warga mulai terketuk. Meski punya sawah, tapi kalau sulit air, maka hasil pertanian tidak akan maksimal. Itu sebabnya, tahun 1975-1976 warga mulai menanami hutan tersebut dengan bambu.
Bersama Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA) Kali Jambe, selaku inisiator pelestari hutan bambu, masyarakat pun aktif mendukung pelestarian hutan bambu.
Bukan itu saja. Warga bahu-membahu membuat plengsengan pelindung mata air, menata hutan bambu tersebut agar nyaman dikunjungi orang, dan rutin menjaga hutan tersebut agar tidak dirusak orang. Semuanya swadaya masyarakat. Diakui, saat itu belum ada dukungan dari pemerintah daerah.
”Tanaman bambu jadi pilihan kami karena jenis ini dinilai paling sedikit risikonya dibanding menanam tanaman keras,” tutur Hery Gunawan, Ketua KPSA Kali Jambe Sumbermujur.
Risiko di sini maksudnya, jika terjadi pembabatan hutan seperti tahun 1990-an, tanaman bambu akan tumbuh kembali dengan cepat dalam lima tahun. Sementara tanaman keras seperti beringin butuh waktu puluhan tahun untuk bisa tumbuh besar kembali.
Artinya, kalaupun hutan bambu dibabat habis oleh massa, maka dalam waktu lima tahun saja warga akan kesulitan air bersih. Lain halnya jika sumber air di sana dilindungi tanaman keras. Bisa puluhan tahun warga terkena dampak kekurangan air bersih.
Lambat laun, dari semula hanya bambu apus saja yang jadi tanaman asli di hutan bambu tersebut, kini setidaknya sudah ada 21 jenis bambu tumbuh subur di hutan tersebut. Seperti bambu jenis ampel hijau, ampel kuning, hingga bambu thailand.

Suasana sejuk
Puluhan rumpun bambu yang menjulang tinggi dan rimbun menghadirkan nuansa sejuk. Kesejukan itu semakin lengkap saat terdengar gemercik air saat kita mulai berjalan ke tengah hutan.
Bahkan saking sejuknya, hutan bambu ini juga jadi rumah bagi puluhan kera dan kelompok kelelawar. Kera-kera ini sesekali turun menyapa pengunjung.
Seiring dengan kembali rimbunnya hutan bambu, maka debit air Sumber Delling pun kembali meningkat. Kini air dari Sumber Delling mengaliri 426 hektar sawah di Sumbermujur, dan sawah-sawah di tiga desa lain, yaitu Desa Penanggal, Desa Tambakrejo, dan Desa Kloposawit. Total ada 891 hektar sawah yang memanfaatkan air dari Sumber Delling.
Jumlah itu masih ditambah dengan 561 hektar sawah di Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh Lumajang (berjarak 50 kilometer dari Desa Sumbermujur) yang juga mengambil air dari sumber ini. ”Mereka mengambil air dari sumber kami dengan mobil-mobil tangki setiap hari selama 24 jam,” kata Hery.
Untuk kebutuhan air minum, ribuan keluarga dari desa-desa di lereng timur Semeru bergantung pada hidup dari mata air Sumber Delling setiap harinya.
Melihat eratnya hubungan antara hutan bambu dan sumber air, warga Desa Sumbermujur pun berusaha melindungi kawasan tersebut dengan membuat Peraturan Desa Nomor 6 Tahun 2007. Peraturan itu berisi kawasan Sumbermujur tak boleh ”disentuh”, baik flora maupun faunanya. Jika melanggar, pelaku akan dikenai sanksi sesuai hukum lingkungan, yaitu hukuman badan atau denda Rp 500 juta.
Untuk membuat warga desa merasa memiliki hutan bambu, kini kawasan tersebut diarahkan menjadi hutan wisata. Masyarakat setempat mendapat penghasilan dari retribusi masuk ke hutan bambu dan berjualan makanan kecil di sana. Pendatang pun senang karena bisa menikmati keasrian hutan bambu serta berenang di kolam alami dengan air langsung dari sumber.
”Kalau begini, warga sekitar akan merasa memiliki dan turut menjaga hutan bambu. Semoga dengan upaya ini, mata air kami akan tetap lestari,” ujar Herry.
Belajar dari pengalaman pahit, warga Sumbermujur pun mau berubah. Dari semula menjadi perambah, kini jadi penjaga hutan bambu. Manfaatnya nyata! Saat warga lain tersiksa kekeringan, warga Sumbermujur berlimpah air bersih. Semoga upaya pelestarian alam ini menginspirasi warga lain di daerah lainnya.


Sumber : Dahlia Irawati, Kompas Jumat, 23 September 2011

Kamis, 30 Mei 2013

Konservasi Terumbu Karang : Cangkok di Kedalaman 5-6 M



Di habitat aslinya, acropora tumbuh 1 cm/bulan. Gara-gara dipotong dengan tang, pertumbuhan melambat jadi 7—10 cm/tahun.


Gambar : Indukan karang di kepulauan Karimun Jawa

Sore itu di dasar laut berkedalaman 5—6 m. Sebuah tang aluminium memotong-motong cabang Acropora kimbeensis. Hasil potongan dibawa ke daratan untuk ditumbuhkan di dalam mangkuk berisi semen. Tujuh bulan kemudian karang siap dipanen. Sebelum ditanam, potongan-potongan karang itu dibersihkan dari lendir dalam bak berukuran 10 m x 1 m x 50 cm. Selanjutnya setiap potongan ditancapkan di dalam mangkuk terbuat dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:4. Sebagai perekat dipakai semen. Karang yang akan ditumbuhkan itu didiamkan dalam bak air laut bersalinitas 33 ppt selama 2—3 hari. Selanjutnya mereka diletakkan di mangkuk-mangkuk berisi potongan karang dalam anjang-anjang yang terbuat dari kayu meranti. Agar kuat, tiap mangkuk dilekatkan ke tali senar yang terpasang di kanan kiri baris anjang-anjang. Proses itu belum berakhir. Anjang-anjang lantas dipindahkan ke laut dan diletakkan dalam meja persegi panjang berpondasi beton. Selama 30 hari karang-karang itu tampak stres. Itu terlihat dari lapisan kerak atau encrusting yang terbentuk setebal 1—2 cm di atas substrat. Namun, dari lapisan kerak itu bermunculan polip-polip yang akan membentuk cabang karang baru. Dalam waktu 7 bulan karang sudah membentuk lebih dari 4 cabang dan siap dipanen. Panen dilakukan dengan cara mengangkat anjang-anjang ke daratan, lalu ditaruh dalam bak 10 m x 1 m x 50 cm. Sebelum dikemas, substrat yang tertutup lumut dan alga digosok. Setelah bersih, dasar substrat diikatkan ke gabus agar mengapung saat dimasukkan ke dalam kantong plastik berisi air hasil aerasi dengan skimmer. Oksigen ditambahkan ke dalam kantong plastik agar karang dapat bertahan hingga 48 jam perjalanan. Setelah itu plastik diikat dan dimasukkan dalam boks berkapasitas 15 kantong yang diberi lubang di kanan-kirinya. Supaya tetap segar, di atas plastik diberi bongkahan es lalu ditutup selembar plastik. Boks styrofoam itu dimasukkan dalam boks karton berlapis plastik. Karang-karang hasil budidaya pun siap dikirim ke negara tujuan.

Berpolip kecil
Itulah proses transplantasi karang yang rutin dilakukan PT Purawisata Baruna, unit koral, Grup Pura, di Pulau Sambangan, Kepulauan Karimunjawa, sejak 2002. Sebanyak 42.000 karang hasil budidaya diekspor ke Eropa (Belanda, Jerman, Perancis, Italia, dan Spanyol), Amerika Serikat, dan Asia (Hongkong, China, Singapura, dan Arab). Jumlah  itu sesuai dengan izin ekspor yang tertuang dalam SK Dirjen PHKA nomor SK 53/IV/IV-KKH/2007 tentang Penetapan Pembagian Kuota Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar 2007.
Bukan tanpa alasan perusahaan yang dikomandoi Jacobus Busono itu giat melakukan transplantasi. “Keragaman karang di sini tak kalah dengan Kepulauan Seribu atau Rajaampat di Papua. Namun, bila terus diambil maka akan punah,” kata Dwi Murtono, ST, pimpinan unit. Adanya transplantasi membuat ketersediaan karang melimpah dan tidak habis meski diekspor. Dampaknya, kehidupan terumbu karang tetap berlangsung harmonis. Yang ditransplantasi adalah jenis small polyp stony (karang batu berpolip kecil, red), seperti genus acropora, montipora, pocillopora, dan hydnopora. “Hampir 90% jenis-jenis itu karena memang pertumbuhannya cepat, terutama yang berbentuk cabang dan foliosa (daun),” kata Dwi. Sisanya jenis large polyp stony yang kebanyakan berbentuk massive (keras) dan submassive. “Masih dalam percobaan,” tambahnya. Itu lantaran bentuk massive dan submassive bulat dan keras bak batu sehingga sulit dipecah. Ditambah lagi pertumbuhannya lambat. “Setahun hitungannya milimeter,” tutur Dwi.
Achantastrea
Tingkat keberhasilan pencangkokan karang jenis-jenis itu mencapai 80%. Keberhasilan itu berkat kerja sama dengan zoocanthellae yang hidup dalam polip karang. “Zooxanthellae membantu penyerapan matahari untuk proses fotosintesis,” ujar Wisnu Widjatmoko, MSc. Menurut lulusan Biologi Karang Universitas Ryukios, Jepang itu matahari dibutuhkan karang sebanyak 95% untuk menghasilkan energi. Dari 80% yang berhasil dicangkok, 20%-nya dikembalikan ke alam—reseeding. Tujuannya untuk pelestarian terumbu karang. Karang yang dilepas ke alam ditaruh di dalam beton berukuran 40 cm x 40 cm. Letaknya berdekatan dengan karang yang tumbuh di alam. Keberhasilan mencangkok bukan berarti tanpa kematian. Sebanyak 20% karang mati gara-gara hama dan sedimentasi yang menyerang saat dipindahkan ke laut. Hama yang kerap mengganggu adalah Achantastrea plantii. Keluarga karang yang memiliki ratusan kaki itu memakan jaringan karang di dekatnya. Achantastrea itu bermunculan ketika bahan organik dan populasi karang padat. “Saat jumlah achantastrea melimpah, dalam sehari semua karang yang ditransplansi mati,” ujar Dwi. Hama lain adalah pinthaster yang berbentuk seperti bola. Ia sama ganasnya dengan achantastrea yang memakan polip karang. Selain jenis karang lain yang menjadi predator, alga pun mengganggu kehidupan karang. Contohnya alga ulfa dan spadina yang muncul setiap Agustus -Oktober. Keduanya menempel di substrat lalu menjalar sampai ke polip. Akibatnya tubuh karang tertutup dan tak dapat menyerap matahari.
Sedimentasi

Peletakkan anjang-anjang yang salah menjadi ancaman serius keberhasilan tranplantasi. Garagara salah pemilihan tempat, PT Purawisata Baruna harus menanggung kematian transplantasi sebanyak 50%. Itu akibat kesalahan meletakkan 20 anjang-anjang. Di kedua tempat itu arus laut kurang sehingga alga yang menjadi makanan karang menjadi sedikit. Selain arus, sedimentasi menjadi ancaman lain ketika salah meletakkan anjang-anjang. Saat upwelling (arus dari dasar laut naik ke atas, red) materi lumpur dan pasir akan terseret ombak. Laut menjadi keruh, materi menutupi polip, dan sinar matahari tidak dapat diserap. Akibatnya biota mati. Kejadian itu pernah menimpa pantai utara Jawa. Dari muara sungai limbah pabrik terbawa ke laut saat banjir. Dalam kondisi itu transplantasi karang akan mengalami kegagalan. Kekeruhan air dapat diukur dengan memakai tutup kaleng yang dicat hitam atau putih. “Warna apa saja bisa asal kontras dengan warna laut,” kata Arif Budiwibowo SPi, kepala operasional PT Purawisata Baruna. Saat tutup kaleng sudah tidak terlihat pada kedalaman 30 cm tandanya air laut keruh. Artinya sinar matahari tidak dapat diserap zooxanthellae karena terhalang oleh materi-materi sedimentasi. Untuk mengatasinya Arif merelokasi anjanganjang ke belakang pulau yang berjarak 200 m dari bibir pantai. Lokasi itu dipilih karena berarus sedang, tidak terlalu deras atau lemah. Arus sedang cocok untuk karang-karang dangkal seperti jenis-jenis yang dibudidayakan perusahaan yang berpusat di Jepara itu. Tak hanya itu saja, lokasi harus datar agar anjanganjang kuat saat diterjang arus. Hal lain, tempat anjang-anjang harus terhindar dari terjangan angin barat atau timur.

Dalam akurium
Proses transplantasi dapat juga dilakukan dalam akuarium. Seperti uji coba yang dilakukan Dr Unggul Aktani dan Center for Coastal and Marine Resources Studies Institut Pertanian Bogor pada 2004. Saat itu 5 cabang A. yongei dilekatkan dalam substrat campuran pasir dan semen, kemudian ditata dalam anjang-anjang. Anjanganjang tidak perlu dibawa ke laut, melainkan tetap dalam akuarium. “Yang terpenting kualitas air,” ujar Unggul. Agar sesuai dengan kondisi di laut, air yang dipakai
bersalinitas 30—34 ppt. Ketika salinitas naik lantaran terjadi penguapan, air dalam akuraium perlu ditambah air tawar. “Sampai nilainya kembali normal,” tambahnya. Untuk mengukur salinitas dipakai salinometer. Selain kualitas air, ketersediaan pakan artemia dan udang kecil menentukan keberhasilan pertumbuhan karang. Pakan itu diberi setiap hari. Sisa pakan dan kotoran diatasi dengan filter mekanis memakai spon. “Kotoran akan tersedot secara otomatis. Namun, filter secara rutin harus dibersihkan,” tutur alumnus Ekologi Terumbu Karang Universitas Bremen Jerman itu. Serangkaian perlakukan itu meningkatkan keberhasilan transplantasi dalam akuarium mencapai 70%. Sisanya, 30%, mati. Penyebabnya kualitas air dan perubahan suhu yang tajam. Di Bogor—tempat percobaan—suhu malam hari turun. Suhu akuarium pun ikut turun menjadi 24°C. Perlakuan serupa juga diterapkan Daniel Knop, akuaris asal Jerman. Beragam jenis acropora ditransplantasinya dalam akuarium. Hasilnya dipakai sebagai ornamen akuarium laut. Itulah beragam cara transplantasi. Hasil transplantasi, selain dikembalikan ke alam sebagai wujud pelestarian terumbu karang juga dapat di ekspor ke mancanegara. 

Sumber :  TRUBUS GOLD EDITION - II

Selasa, 28 Mei 2013

Keluarga Herawati Soekardi, "Detektif" Penyelamat Kupu-Kupu Sumatera Kerjanya Mencari Daun-Daun yang Bolong Dimakan Ulat


RUMAH-rumah mungil berderet di sepanjang jalan menuju puncak Gunung Betung, Bandar Lampung, Lampung. Seperti lazimnya di daerah pegunungan, rumah-rumah itu berjarak lumayan jauh antara satu dan yang lain.

Di antara rumah-rumah itu, berdiri sebuah rumah unik. Seluruh dindingnya terbuat dari papan kayu. Tidak ada yang berasal dari batu bata. Rumah tersebut berlantai dua. Tapi, posisinya berada di bawah jalan raya.

Rumah itulah yang dinamakan pemiliknya, Herawati Soekardi, sebagai markas besar Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Sesuai namanya, rumah itu juga menjadi semacan museum kupu-kupu. Ratusan jenis kupu-kupu yang sudah diawetkan dipajang di seluruh penjuru dinding. Ada juga yang ditata rapi di beberapa kaca etalase.


Gambar kupu-kupu ( Sumber : Wikipedia )

"Beruntung sekali Anda ke sini pas hujan," ujar Herawati dengan ramah ketika ditemui di markasnya Selasa (28/8) siang. Saat itu gerimis turun menyejukkan udara di kaki Gunung Betung. Bagi komunitas kupu-kupu, musim hujan merupakan fase membeludaknya populasi satwa indah itu di habitatnya.
 
Menurut Herawati, di kawasan kaki Gunung Betung kini terdapat 170 spesies kupu-kupu dari enam famili yang berbeda. Yaitu, famili papilionidae yang terdiri atas 20 spesies, pieridae (15), nymphalydae (60), lycaenidae (34), riodinidae (1), dan hesperlidae (30).
Di antara spesies kupu-kupu khas Sumatera itu, ada dua yang masuk kategori dilindungi karena makin langka. Dua spesies itu adalah cethosia hypsea (kupu-kupu renda batik) dan troides helena cerberus. "Tinggal sedikit di alam liar. Makanya harus dilindungi supaya tidak punah," ujar perempuan pertama ahli kupu-kupu di Indonesia itu.
Setelah hujan reda, Jawa Pos diajak keliling di taman tak jauh dari markas Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Di taman seluas hampir 5 hektare itu memang sangat gampang menemukan kupu-kupu beterbangan atau hinggap di bunga-bunga yang mekar. Warnanya yang indah membuat kagum yang memandang. Bahkan, ada kupu-kupu "raksasa" yang bentang sayapnya hampir seukuran kepingan VCD.
"Kebanyakan kupu-kupu ini asli Sumatera. Tapi, beberapa juga ada di Jawa, Kalimantan, Malaysia, dan Singapura," ujar istri Anshori Djausal itu.
Ibunda Alia Larasati, Meizano, Gita Paramita, dan Anisa Nuraisa itu menuturkan, tamannya juga menjadi kawasan penangkaran kupu-kupu. Di tempatnya kupu-kupu dibiarkan bebas berkembang. Sedangkan di tempat lain, kupu-kupu dijaring, lalu dikan. "Dengan cara seperti itu, risiko kematian atau kegagalan budi daya lumayan tinggi."
Dalam perjalanan profesinya sebagai ahli kupu-kupi, Herawati telah "menciptakan" ilmu baru tentang pelestarian atau konservasi kupu-kupu. Sistem konservasi yang dilakukan adalah menanam pepohonan atau bunga-bungaan yang menjadi santapan alami ulat yang nanti menjadi kupu-kupu.
Dengan cara itu, untuk konservasi tidak perlu dengan menjaring kupu-kupu di hutan, lalu dilepas di taman. Risiko kematiannya lebih besar. "Jika ditangkar saja, tetapi tidak disiapkan makannya, tidak akan bisa hidup atau berkembang biak," kata doktor biologi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Herawati menuturkan, pada awalnya upaya konservasi kupu-kupu asli Sumatera cukup sulit. Dia bersama empat anaknya harus bahu-membahu mencari tanaman yang secara alami menjadi santapan ulat atau kupu-kupu. Kondisi kian sulit karena pada awal pendirian taman kupu-kupu pada 1997"1998 tidak ada referensi tentang tumbuhan-tumbuhan yang khusus untuk makanan ulat atau kupu-kupu.
 
Meski begitu, Herawati bersama suami dan anak-anaknya tidak menyerah. Mereka lalu melakukan riset khusus untuk mengetahui jenis tanaman apa saja yang biasa menjadi konsumsi ulat-ulat yang berkeliaran di hutan. "Kami menggunakan naluri seperti detektif untuk mengidentifikasi tanaman-tanaman yang biasa dimakan ulat tersebut."
Cara detektif itu dilakukan dengan memelototi dedaunan di dalam hutan. Setiap ada daun yang habis digerogoti ulat, keluarga Herawati memberikan tanda. Sebab, selain sebagai santapan ulat sehari-hari, pohon itu pasti menjadi tempat meletakkan telur kupu-kupu.
"Insting kupu-kupu selalu meletakkan telur di daun yang akan menjadi makanan ulat agar bila menetas si ulat sudah langsung mendapat makanannya," kata perempuan kelahiran Palembang, 14 Agustus 1951, itu.
Dari teori yang dia pelajari, dalam radius lima meter dari daun yang meninggalkan bekas gerogotan, besar kemungkinan ada ulatnya. Minimal ada telur kupu-kupu. Bahkan, juga kupu-kupu yang beterbangan.
Jika menemukan daun seperti itu, Herawati lalu mencari bibit tanamannya untuk ditanam di tamannya. Terkadang dia juga mencari ulat atau telur kupu-kupu untuk ditempatkan di penangkaran. "Tapi, saya tidak menangkap kupu-kupunya."
Hobi meneliti dedaunan yang dimakan ulat itu terbawa hingga saat di tempat-tempat yang banyak pepohonannya. Misalnya, ketika mereka berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas atau Taman Nasional Bukit Barisan. "Saya terus berusaha menambah koleksi pepohonan baru sehingga koleksi kupu-kupunya bisa terus meningkat," ucapnya.
 
Saat ini di belakang rumah kayu yang dijadikan markas Taman Kupu-Kupu Gita Persada itu tumbuh 160 jenis tanaman. Mulai berbagai jenis bunga, rerumputan, pohon pisang, kelapa, rotan, hingga bambu.
Selain itu, ada pohon kayu hara atau pohon madu yang khas Lampung. "Di sini setiap spesies kupu-kupu memiliki makanan berbeda," terang Martinus, menantu Herawati yang menjadi manajer operasional taman kupu-kupu itu.
Obsesi Herawati dan keluarga untuk terus menambah koleksi kupu-kupu khas Sumatera terus diupayakan. Pasalnya, berdasar literatur yang dia pelajari, kupu-kupu khas Sumatera terdapat lebih dari 1.500 spesies. Sedangkan yang sudah dikoleksi taman itu baru 10 persennya. Karena itu, Herawati akan terus mencari tanaman baru yang menjadi sumber makanan ulat atau kupu-kupu spesies baru.
Konservasi kupu-kupu  tidak bisa dia kerjakan sendirian. Untuk itu, Herawati berharap agar taman kupu-kupu miliknya bisa menjadi model bagi tempat konservasi lain. "Kalau mengalami kesulitan tanaman untuk konsumsi ulat, kami siap menyuplai. Di sini banyak," tuturnya.
Taman kupu-kupu Herawati kini menjadi jujukan riset atau rekreasi para pencinta kupu-kupu dari berbagai kota di tanah air. Bahkan, ada sebuah hotel besar yang berniat membuat penangkaran kupu-kupu seperti yang dilakukan Herawati.
Menurut Herawati, semestinya di Sumatera tidak hanya taman kupu-kupu di Lampung yang dikembangkan. Tapi, perlu di lokasi lain untuk "menjaring" kupu-kupu dari kawasan Palembang atau Medan. "Harapan saya, di kota-kota tadi juga ada warga yang berinisiatif mendirikan taman kupu-kupu," katanya.
 
Herawati menegaskan, upaya konservasi kupu-kupu dari kepunahan bukan persoalan sepele. Memang, pada  awalnya Herawati sempat dicibir karena pamor kupu-kupu Sumatera kalah ketimbang badak, harimau, atau gajah Sumatera.
Tapi, Herawati tetap ngotot bahwa keragaman corak warna kupu-kupu merupakan kekayaan alam tropis yang harus dilestarikan. "Kekayaan alam kita ini harus dijaga dan dilestarikan sebelum nanti diklaim milik negara lain," tandas dia.

Sumber : JPNN  Kamis, 30 Agustus 2012